Home » , » Bersabar dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.

Bersabar dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.

Written By Emye Yahya on Senin, 18 Maret 2013 | 18.23

Kecerdasan Hakiki: Bersabar dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.



Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: ”Orang cerdas adalah orang yang selalu menghisab dirinya dan beramal shalih untuk bekal kehidupan setelah mati. Orang lemah adalah orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah dan al-Hakim).

Dr. Evian Gordon, pakar "neuro science" pendiri Brain Resource Company yang mengembangkan database terbesar untuk penelitian tentang otak manusia, menyatakan bahwa dari semua penelitian tentang otak manusia, maka satu-satunya kesimpulan yang didapat adalah bahwa manusia pada alaminya secara teroganisir selalu berusaha "minimize danger, and maximize rewards", atau manusia selalu berusaha untuk meminimasi bahaya dan memaksimumkan kesenangan, meminimasi keburukan dan memaksimumkan kebaikan dalam setiap tindakannya, atau dapat kita simpulkan bahwa secara fitrahnya tidak ada satupun manusia yang menginginkan penderitaan di dalam kehidupannya dan semua manusia menginginkan kesenangan dan kebaikan.

Walaupun begitu lanjutnya, taraf menghindari penderitaan dan menginginkan kesenangan tersebut berbeda-beda di antara manusia berdasarkan kecerdasan atau taraf berpikir yang dipunyainya. Berdasarkan taraf kecerdasan ada orang-orang yang mau menghadapi kesusahan dan menjalani penderitaan apabila dia memahami bahwa ada kebaikan yang lebih banyak yang akan didapatnya di dalam menjalani kesusahan tersebut . Dan ada orang-orang yang tidak mau menjalani kesusahan untuk mendapatkan kebaikan yang lebih banyak, dikarenakan kurangnya pemahaman yang dia punyai.

Berdasarkan pemahaman ini, maka dapat dipahami kenapa ada orang-orang yang mau menjalani kesusahan untuk makan obat karena dia yakin bahwa sesudah makan obat yang pahit dia akan senang dengan mendapatkan kesehatan, atau ada sebahagiaan orang yang mau bertahan untuk bersusah-susah belajar selama empat tahun menjadi sarjana karena dia yakin sesudah susah empat tahun kehidupannya akan menjadi lebih senang, atau ada sebahagiaan orang mau bersusah susah untuk berolahraga, karena melihat kebaikan yang akan didapatnya sesudah bersusah payah berolahraga dan seterusnya dan kenapada ada orang-orang yang tidak mau menghadang kesusahan sama sekali. Hal ini dia nyatakan sebagai perbedaan tingkat pemahaman yang dipunyai manusia atau perbedaan kecerdasan yang ada di antara manusia. Kalau boleh kita simpulkan menurut pakar "Neuro Science" bahwa manusia yang kurang cerdas adalah manusia yang menghindari keburukan sementara sementara dia menghilangkan kebaikan yang lebih banyak . Begitulah para pakar "Neuro Science" mendefinisikan cerdas tidaknya manusia berdasarkan kemampuan memaksimumkan kebaikan dan meminimasi keburukan yang akan didapatkannya.

Sesungguhnya Rasulullah sudah menyampaikan bahwa manusia yang cerdas adalah manusia yang memahami hakekat kehidupan dunia dan hakekat kehidupan di akherat, sebagaimana sabda beliau di atas manusia yang cerdas adalah manusia yang mempersiapkan dirinya untuk kehidupan di akherat dan tidak tertipu di dunia. Karena manusia yang menggunakan akal pikirannya dengan benar, akan paham tentang hakekat kehidupan dunia, bahwa dunia adalah kehidupan yang sementara, dan kenikmatan yang didapatkan didalamnya pun hanya sementara. Allah telah menyebutkan di dalam firman-firmanNya, tentang suruhan kepada manusia untuk memahami hakekat kehidupan ini, hakekat penciptaan langit dan bumi, hakekat keberadaan Allah dengan akal pikirannya, dan hanya orang-orang yang bertafakurlah yang akan sampai kepada keyakinan akan adanya kehidupan sesudah kehidupan dunia (Ali Imran 190-191).

Manusia yang cerdas tentu akan mencoba memahami apa yang diinginkan oleh Allah atas penciptaan kehidupan ini. Bahwa Allah memberikan dunia hanyalah sebagai tempat sementara untuk menuju kepada kehidupan yang sesungguhnya, yaitu adanya kehidupan yang kekal sesudah kehidupan di dunia. Dan untuk mendapatkan kemuliaan di kehidupan sesudah kehidupan di dunia ini, Allah memberikan persyaratan untuk manusia mendapatkannya yaitu untuk taat kepadaNya secara totalitas dan bersabar di dalam ketaatan kepadanya. Maka di dalam bentuk ketaatan inilah dilihat tingkat kecerdasan manusia. Manusia cerdas dan paham tentu mau menjalani kesusahan untuk taat kepada aturan Allah Ta'ala secara totalitas, karena dia mengerti bahwa akan ada kenikmatan yang jauh lebih besar yang akan didapatkan di dalam ketaatan tersebut, dan apabila ada kesusahan karena taat kepada aturan-aturanNya, dia juga paham penderitaan juga hanya sementara.

Begitu banyak firman-firman Allah yang menceritakan bagaimana tingginya keindahan dan kenikmatan sorga, dan bagaimana siksa yang akan dihadapi apabila tidak melaksanakan aturan-aturanNya. Dan juga dalam banyak ayat Allah telah memberikan contoh - contoh kehidupan manusia-manusia di zaman dahulu dengan segala kesenangan yang mereka dapat, tetapi tidak satupun yang membahagiakan mereka dikarenakan semuanya bersifat sementara dan pada akhirnya tetap berujung kepada kehancuran. Inilah sesuatu yang sangat nyata bagi orang-orang yang benar-benar mencoba memahami akan hakekat kehidupan yang sebenarnya, yang akan menjadi landasan bagi mereka untuk mau menghadapi segala kesusahan dan kesengsaraan di dalam taat kepadaNya, untuk mendapatkan redhoNya, yaitu kebaikan yang jauh lebih banyak lagi.

Lebih jauh lagi, ketidakcerdasan tentu diukur ketika manusia menggadaikan akheratnya hanya untuk mendapatkan dunia saja. Mulai dari orang-orang yang tidak mau untuk ikut aturan-aturan Allah Ta'ala, sampai kepada orang-orang yang takut kepada manusia sehingga mengkompromikan aturan-aturan Allah dengan aturan-aturan manusia agar manusia redho kepada dirinya, atau orang-orang yang tidak peduli dengan tegaknya hukum Allah di dalam kehidupan ini dan tidak mau memperjuangkannya. Kadang sebahagian orang yang mengambil langkah moderat menganggap bahwa perbuatan mereka dengan mengkompromikan hukum-hukum Allah adalah perbuatan yang sangat cerdas sekali. Mereka berasumsi dengan sikap demikian mereka bisa mengakali manusia sehingga tidak mengundang kemarahan manusia kepada diri mereka, tetapi mereka tidak mengetahui hal yang demikian sesungguhnya telah mengundang murka Allah atas diri mereka.

Bagi manusia-manusia yang telah mengambil kenikmatan dunia dengan melanggar aturan-aturanNya, lalu juga berharap akan mendapatkan kebaikan-kebaikan dari Allah di akherat nanti dengan pelanggaran yang telah dilakukannya, adalah orang-orang yang berangan-angan kepada Allah Ta'ala. Orang-orang yang berdiam diri ketika hukum-hukum Allah tidak tegak dan tidak mau memperjuangkan agama Allah tetapi berharap Allah akan memberikan pertolongan kepadanya di akherat nanti adalah orang-orang yang berangan-angan kepada Allah. Orang-orang yang membatasi amal solehnya sementara tidak pernah menghitung amal keburukannya lalu berharap Allah akan redho kepadanya adalah orang-orang yang berangan-angan kepada Allah sebagaimana berangan-angannya orang-orang yang sakit yang ingin sehat tetapi tidak mau meminum obatnya, atau orang-orang yang ingin menjadi sarjana tetapi tidak mau belajar. Dan angan-angan tidak akan pernah mendatangkan sedikitpun kebaikan.

Sesungguhnya kenikmatan di dunia ini sangat sedikit, dan mendapatkannya sering manusia dengan bersusah payah di dunia. Dan kalaulah untuk mendapatkan dan menjaga kenikmatan di dunia ini dengan melanggar aturan-aturanNya, tentulah kita akan menjadi orang yang sangat merugi, di dunia dan akherat. Sementara kenikmatan akherat itu sangatlah tak terbayangkan banyaknya, dan hanya didapatkan dengan taat kepada aturan-aturanNya, dan berusaha menegakkan dan memperjuangkan aturan-aturanNya. Sesungguhnya bayangan kenikmatan yang banyak yang akan didapat akan menghilangkan kesusahan yang sedikit yang sedang dijalani. Kecerdasan yang hakiki adalah bersabar di dalam taat kepada Allah, apapun resikonya untuk mendapatkan redhoNya dan surga yang dijanjikanNya.

Allah Ta'ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. (At Taubah 38)

Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.
(An Nisaa' 74)

Wallahualam bishawwab..

[AM]
Share this article :

0 comments:

Poskan Komentar

Isi Post Dzul Kifayatain

Translate

Topics :
 
Support : emye Blogger Kertahayu | kanahayakoe | Shine_83
Copyright © 2013. Dzul Kifayatain_Tis'ah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger