Home » » Memahami RAHMAT dan KASIH SAYANG dalam ISLAM

Memahami RAHMAT dan KASIH SAYANG dalam ISLAM

Written By Emye Yahya on Jumat, 15 Maret 2013 | 15.23


Sebab Dipilihnya Tema Ini
Kita memilih tema ini karena banyak diantara manusia, baik dari kalangan kaum muslimin maupun dari kalangan non muslim mereka telah salah memahami agama Islam ini, yang mana mereka menduga bahwa Islam adalah agama yang identik dengan kekerasan dan radikalisme. Hal ini tentu adalah pemahaman yang salah kaprah tentang agama Islam tanpa diragukan lagi. Sesungguhnya (kita meyakini) bahwa Rab-kita adalah Rab yang maha Penyayang, agama kita adalah agama yang membawa rahmat, dan Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam adalah Nabi yang rahmat.

Kasih Sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Sesungguhnya berbicara tentang sifat kasih sayang Allah Ta’ala adalah pembahasan yang sangat luas sekali. Akan tetapi cukuplah saya sebutkan satu surat yang selalu kita ulang-ulang siang dan malam serta seluruh shalat-shalat kita yaitu surat Al-Fatihah, yang mana Allah Ta’ala telah mensifati diri-Nya dengan sifat ‘Ar-Rahman’ dan ‘Ar-Rahim’ (Yang maha Pengasih lagi maha Penyayang). Bukankah anda mengucapkan,
“Dengan menyebut nama Allah Yang maha Pengasih lagi maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Rab semesta alam. Yang maha Pengasih lagi maha Penyayang.”
Demikianlah agar selalu menjadi perhatian bagi setiap muslim bahwasanya sifat Rahmat adalah sifat yang dimiliki oleh Allah subhanahu Wa Ta’ala.

Keagungan Rahmat Allah Ta’ala
Sesungguhnya Rahmat yang dimiliki oleh Allah Ta’ala adalah Rahmat yang sangat besar dan tidak bisa di jangkau dengan akal manusia. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

“Sesungguhnya Allah menciptakan seratus rahmat dihari penciptaannya sejumlah seratus rahmat. Maka Allah tahan apa yang ada disisi-Nya sebanyak sembilan puluh sembilan, dan Allah mengutus satu rahmat-Nya saja keseluruh makhluk-Nya.” (HR. Ibnu Majah)

Makna hadits diatas bahwa apa yang seluruhnya engkau lihat di dunia ini berupa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, kasih sayang orang-orang shalih yang kaya kepada orang-orang yang faqir, rahmat kepada orang-orang yang miskin dan yang selainnya dari rahmat dan kasih sayang yang menyebar di dunia ini dengan keutamaan Allah. Padahal itu semua bari satu bagian dari seratus rahmat Allah yang amat sangat luas dan meliputi segala sesuatu. Kita memohon kepada Allah agar mendapatkan rahmat yang luas.

Islam Adalah Agama Yang Rahmat
Sesungguhnya Rab-kita Allah Ta’ala adalah Rab Yang maha Kasih sayang sebagai mana telah kita jelaskan, oleh karena itu Dia memerintahkan umat Islam untuk saling berkasih sayang antara satu dengan yang lain. Bahkan itu dijadikan sebagai syarat agar seseorang mendapatkan rahmat dari Allah Ta’ala. Sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

«الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ»
“Orang-orang yang berbuat kasih sayang akan disayang oleh ‘Ar-Rahman’ (Yang maha Penyayang), maka sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi ini niscaya engkau akan disayang oleh (Allah) yang ada diatas langit.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Perhatikanlah bagai mana Allah mensyaratkan siapa saja yang ingin mendapatkan rahmat-Nya hendaklah ia berbuat kasih sayang kepada manusia.

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wa Sallam Adalah Nabi Pembawa Rahmat
Maka tatkala kita meyakini bahwa Rab-kita Allah Ta’ala adalah Maha Pengasih, agama kita Islam adalah agama rahmat, demikian juga Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah Nabi yang membawa rahmat. Sunguh sejarah perjalan akhlaq, sifat-sifat, dan mu’amalah beliau adalah potret kasih sayang yang tiada duanya, diantaranya sebagai contoh:

Sifat Rahmat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam Dalam Pribadi Beliau
Nabi shallallahu’alaihi wasallam adalah sosok yang penyayang kepada seluruh manusia, oleh karena itu Allah mensifati dalam firman-Nya
,
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
  “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(Al-Anbiyaa’: 107)

Beliau bukanlah seorang yang senang mempersulit dan menyulitkan manusia dalam urusan mereka, akan tetapi beliau adalah seorang yang penyayang kepada mereka. Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
“Allah tidaklah mengutusku dalam rangka untuk mempersulit dan menyulitkan, akan tetapi Dia mengutusku untuk mengajarkan dan memudahkan.” (HR. Muslim)

Kasih Sayang Nabi Shallallahu’alaihi wasallam Kepada Para Wanita
-            Nabi shallallahu’alaihi wasallam adalah sosok yang penyayang kepada istri-istrinya. Oleh karena itu perhatikanlah hadits berikut ini:

“’Aisyah radhiyallahu’anha pernah ditanya, ‘Apa yang diperbuat oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam dirumahnya?’ maka ia menjawab, ‘Beliau selalu membantu istri-istrinya, apabila telah datang waktu shalat maka beliau keluar untuk shalat’.” (HR. Bukhari)

   Perhatikanlah! Ternyata nabi yang paling mulia pun membantu pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti memasak, menjahit, atau yang semisalnya. Padahal beliau shallallahu’alaihi wasallam adalah pribadi yang sibuk dengan wahyu, sibuk mengurusi urusan kaum muslimin, dan sibuk dengan urusan jihad fi sabilillah. Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh sebagian tholibul ‘ilmi dan sebagian para da’i mana kala dia diminta oleh para istrinya untuk membantunya dalam urusan rumah tangga, maka sontak ia berteriak, ‘apa kamu tidak tahu kalau aku ini adalah seorang penuntut ilmu yang sibuk serta tidak ada waktu untuk mengerjakan pekerjaan macam ini’!!.

-              Diantara potret kasih sayang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada para istri-istrinya, bahwa beliau tatlkala memasuki rumahnya beliau bersegera mengucapkan salam, dan apabila beliau masuk rumah pada waktu malam hari beliau tidak mengeraskan suaranya agar tidak membangunkan istri-istrinya. Sebagaimana hal tersebut terdapat

di dalam hadits Al-Miqdad radhiyallahu’anhu ia berkata, “..Maka suatu ketika beliau shallallahu’alaihi wasallam datang pada malam hari kemudian beliau mengucapkan salam tanpa membangunkan seorang yang tidur hingga ia bangun tatkala mendengarkan suara tersebut.” (HR. Muslim)

   Namun sangat di sayangkan saat sekarang ini, yang mana tatkala seseorang ia pulang kerumahnya ketika sudah larut malam, dia mengeraskan dan meninggikan suaranya hingga bangunlah seluruh penghuni rumah, oleh karena itu perhatikanlah betapa jauhnya akhlaq kita dalam hal kasih sayang dibandingkan dengan akhlaq Nabi kita yang mulia shallallahu’alaihi wasallam.

-             Diantara bentuk kasih sayang Nabi shallallahu’alaihi wasallam kepada para wanita adalah kesungguhan beliau untuk berlemah lembut kepada mereka dan tidak menyusahkan mereka.

   Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam suatu ketika sedang melakukan safar, ketika itu ada seorang pemuda yang bernama Anjasyah dialah yang menarik kendaraan yang ditunggangi oleh istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam, kemudian ia menarik kendaraan tersebut dengan keras, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

«رُوَيْدَكَ يَا أَنْجَشَةُ سَوْقَكَ بِالقَوَارِيرِ»
    “Pelan-pelan wahai Anjasyah karena engkau sedang menarik gelas-gelas kaca.” (HR. Bukhari)

  Artinya: Nabi shallallahu’alaihi wasallam memintanya untuk menarik kendaraan tersebut dengan pelan-pelan agar tidak menyakiti mereka (para istri Nabi shallallahu’alaihiw asallam).

    Lihat dan bandingkanlah akhlaq beliau dengan apa yang dilakukan oleh  sebagian orang yang mana mereka membebani istri-istri mereka dan anak-anak perempuan mereka dengan pekerjaan yang tidak sanggup untuk mereka pikul, bahkan tidak sanggup untuk di pikul oleh orang-orang laki-laki sekalipun.

Kasih Sayang Nabi Shallallahu’alaihi wasallam Terhadap Anak Kecil
Nabi shallallahu’alaihi wasalla adalah sosok yang penyayang terhadap anak kecil, sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam tatkala melihat anaknya Ibrahim radhiyallahu’anhu beliaupun memeluk dan menciumnya, sebagai mana hal tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam  juga sosok yang jauh dari kekarasan dalam bergaul dengan anak-anak kecil, yang mana sikap keras terhadap anak kecil adalah gambaran kepribadian seseorang yang jelek. Suatu ketika datang seorang arab badui kemudian ia melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mencium Hasan dan Husein bin ‘Ali radhiyallahu’anhuma, maka orang badui itu merasa takjub dan mengatakan, “Apakah kalian biasa mencium anak-anak kalian? Kami tidak pernah mencium anak-anak kami.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Bagaimana kiranya kalau Allah mencabut kasih sayang dalam dirimu?!” (HR. Bukhari)

Maksudnya: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam ingin menjelaskan kepada orang badui tersebut bahwa beliau memiliki sifat kasih sayang yang tidak dia miliki.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam benar-benar bergaul dengan kita (anak-anak kecil), sampai sampai beliau pernah berkata (untuk menghibur) saudaraku yang masih kecil,

“Wahai Abu ‘Umair apa yang yang diperbuat oleh An-Nughair?”  (berkata Anas) sausarakumempunyai burung kecil yang bernama Nughair namun burung tersebut mati.” (Muttafaqun’alaihi)

   Maksud dari hadits tersebut adalah: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam beliau biasa bergaul dengan anak-anak kecil, mencandai mereka, serta membuat mereka tertawa dan tersenyum.
   Bahkan kasih sayang Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak hanya terbatas kepada anak-anak kaum muslimin saja, bahkan beliau pun memiliki kasih sayang terhadap anak-anak kecil dari non muslim.
   Yang mana diantara wasiat-wasiat Nabi shallallahu’alai wasallam dalam peperangan adalah, “Janganlah kalian berbuat khianat, janganlah kalian melakukan mutilasi, dan janganlah kalian membunuh anak kecil.”                                                                      

  Maksudnya: janganlah kalian membunuh anak-anaknya kaum musyrikin yang masih kecil, karena mereka tidaklah memilki dosa.

Kasih Sayang Nabi shallallahu’alaihi wasallam Kepada Anak-anak Yatim
    Nabi shallallahu’alaihi wasallam adalah sosok yang penyayang kepada anak-anak yatim, dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

«أَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى
“Aku dengan orang-orang yang mengkafalahi anak yatim kedudukannya disurga seperti ini (kemudian Nabi shallallahu’alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengan serta merenggangkan diantara keduanya).” (HR. Bukhari)

Kasih Sayang Nabi Shallallahu’alaihi wasallam Kepada Para Pemuda
    Nabi shallallahu’alaihi wasallam adalah sosok yang penyayang kepada para pemuda Islam serta beliau berusaha untuk menghilangkan problem yang mereka hadapi dan memberikan solusi kepada mereka dengan penuh lemah lembut dan kasih sayang.
   Dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu berkata, “Sesungguhnya ada seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah izinkanlah aku untuk berbuat zina’, maka orang-orang pun menghardiknya dengan keras dengan mengatakan, ‘kurang ajar, kurang ajar’, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Dekatkanlah dia’, maka (pemuda tersebut) mendekatinya sambil duduk. Kemudian Rasulullah bersabda,

‘Apa kamu suka kalau ibumu dizinahi?’ maka ia menjawab, ‘Tidak demi Allah diriku menjadi tebusanmu’, maka beliau bersabda,‘Demikian juga manusia tidak suka kalau ibunya engkau zinahi.’ Beliau bersabda, ‘Apa kamu suka anak perempuanmu di zinahi?’ maka ia menjawab, ‘Tidak wahai Rasulullah diriku menjadi tebusanmu’, maka beliau bersabda, ‘Demikian juga manusia tidak suka kalau anak perempuannya engkau zinahi.’ Beliau bersabda, maka ia menjawab, ‘tidak wahai Rasulullah diriku menjadi tebusanmu’, ‘apakah engkau suka kalau saudari perempuanmu dizinahi?’ maka beliau bersabda, ‘demikian juga manusia tidak suka kalau saudari perempuannya engkau zinahi.’Beliau bersabda, ‘apa kamu suka kalau bibimu (dari arah bapak) dizinahi?’maka ia menjawab, ‘tidak wahai Rasulullah diriku menjadi tebusanmu’ maka beliau bersabda, ‘demikian juga manusia tidak suka kalau engkau menzinahi bibi mereka.’ Beliau bersabda, ‘apakah kamu suka kalau bibimu (dari arah ibu) dizinahi?’ maka ia menjawab, ‘tidak wahai Rasulullah diriku menjadi tebusanmu’, maka beliau bersabda, ‘demikian juga mansia tidak suka kalau engkau menzinahi bibi mereka (dari arah ibu)’. Berkata Abu Umamah, ‘Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda tersebut dengan mendo’akan,

" اللهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ "
“Wahai Allah ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.” Maka setelah itu pemuda tersebut tidak lagi melirik perbuatan zina sedikit pun. (HR. Ahmad)

  Perhatikanlah bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam berinteraksi dengan pemuda tersebut dengan kasih sayang dan lemah lembut, padahal dia telah meminta izin kepada beliau untuk melakukan suatu perbuatan yang keji, hal itu dikarenakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengetahui bahwa masa muda adalah masa dimana syahwat sedang memuncak, maka yang lebih utama adalah memperlakukan pemuda ini dengan lemah lembut yang mana hal tersebut membantunya untuk menjauhi pikiran-pikiran kotor tersebut.
   Sungguh hal terbut terdapat pelajaran bagi para pendidik, sungguh terkadang kita dapati metode pendidikan bagi para pemuda dilakukan dengan cara keras dan kaku sehingga hal tersebut membuat mereka lari dan menambah mereka semakin jauh dari agamanya, oleh karena itu wajib atas mereka untuk meneladani Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam.

Kasih Sayang Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Kepada Musuh
Diantara gambaran kasih sayang Rasulullah yang sangat menakjubkan adalah kasih sayang beliau kepada musuh-musuhnya yang telah melakukan teror kepada beliau dengan berbagai macam teror. Sebagai contoh tatkala Nabi shallallahu’alaihi wasallam membuka kota Makkah yang mana kaum musyrikin berada dibawah kekuasaan beliau, serta telah diliputi rasa takut di dalam kepala-kepala dan hati mereka, mereka pun saling bertanya diantara mereka apa yang akan dilakukan oleh beliau kepada mereka, bagai mana beliau akn melampiaskan dendamnya kepada mereka karena mereka telah menyiksanya, dan mengusirnya dari negerinya serta kepada para shahabatnya. Namun apa yang terjadi, ternyata beliau memaafkan mereka atas kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan kepada beliau, dan berkata kepada mereka.

Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Kepada Binatang
   Kasih sayang Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak sebatas kepada manusia saja, bahkan kasih sayang beliau pun juga tertuju kepada binatang, yang mana binatang kebanyakan tidak memiliki kuasa dihadapan manusia. Nabi shallallahu’alaihi wasallam sangat bersungguh-sungguh agar hak-hak binatang tidak dilanggar, serta berbuat lemah lembut terhadap binatang tersebut yang tidak memiliki kekuatan dihadapan manusia.
   Sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah berwasiat agar kita bersikap lemah lembut tatkala menyembelih binatang, dan berbuat baik kepadanya. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda kepada seseorang yang dia sedang merebahkan kambing, namun ia menajamkan pisaunya dihadapan kambing tersebut,

“Apa kamu ingin membunuhnya dua kali? Mengapa engkau tidak menajamkan pisaumu terlebih dahulu kemudian engkau merebahkannya.” (Dikeluarkan oleh Al-Hakim didalam Al-Mustadrak. Berkata Adz-Dzahabi, “Berdasarkan syarat Bukhari”)

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,

«إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ»
  “Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan (kebaikan) dalam segala perkara, apabila kalian membunuh maka perbaguslah dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih maka perbaguslah dalam menyembelih, hendaknya salah seorang diaantara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan binatang sesembelihannya.” (HR. Muslim)

  Diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa sanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

«دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا، فَلَمْ تُطْعِمْهَا، وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ»
“Masuk neraka seorang wanita gara-gara seekor kucing yang ia ikat (sampai mati) tanpa diberi makan atau dilepaskan agar dia mencari mangsanya di luar.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda(yang artinya),

“Suatu ketika ada seseorang yang berjalan ditengah jalan dalam keadaan haus yang mencekik, kemudian ia mendapati sumur maka ia pun turun kebawahnya kemudian ia keluar, kemudian ia mendapati ada seekor anjing yang sedang menjilat tanah karena kehausan. Maka orang tersebut berkata, ‘sungguh anjing ini mendapatkan rasa haus seperti apa yang aku rasakan, kemudian ia pun turun ke sumur dan mengisi sepatunya dengan air, kemudian ia memegang mulut anjing tersebut untuk memberinya minum, maka Allah berterimakasih kepada orang ini dan mengampuni dosa-dosanya. Kemudian para shahabat pun bertanya, ‘wahai Rasulullah! Apakah kita bisa mendapatkan pahala karena (berbuat baik) kepada binatang-binatang ternak kita?’ maka beliau bersabda, ‘Pada setiap (perbuatan baik) terdapat makhluk yang bernyawa terdapat pahala’.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kasih Sayang Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Kepada Pembantu
Nabi shallallahu’alaihi wasallam adalah sosok yang memiliki kasih sayang kepada pembantu, beliau berwasiat agar mereka diperlakukan dengan baik. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Mereka adalah saudara-saudara kalian yang Allah jadikan mereka dibawah kekuasaan kalian, maka barang siapa yang saudaranya berada dibawah kekuasaannya, berilah dia makanan dari apa yang dia makan, berilah pakaian dari apa yang dia pakai, dan janganlah kalian membebani mereka apa-apa yang mereka tidak mampu, apabila kelian membebankan suatu pekerjaan (berat) kepada mereka maka bantulah mereka.” (HR. Bukhari)

Bandingkan akhlaq beliau dengan sebagian orang yang memperlakukan pembantunya layaknya seekor binatang atau bahkan lebih buruk dari pada memperlakukan binatang, kasus semacam ini sangat disayangkan banyak terjadi dinegara-negara Arab yang notabennya adalah negara kaya.Wallahul Musta’an.

Diantara kasih sayang Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam kepada pembantu bahwasanya beliau mempergauli mereka dengan cara yang baik bahkan beliau tidak mencelanya sama sekali. Inilah sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu pembantu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ia menceritakan kepada kita tentang bagaimana perjalanannya menjadi pembantu Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Berkata Anas bin Malik, “Aku membantu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selama sembilan tahun, beliau tidak pernah mencelaku dalam urusan apapun.” (HR. Muslim)

Kasih Sayang Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Terhadap Orang-orang Yang Bodoh
Nabi shallallahu’alaihi wasallam adalah sosok yang penyayang dan memberikan pengajaran yang baik kepada orang-orang yang bodoh, beliau tidaklah bersikap kaku kepada mereka, tidak memarahi mereka, dan tidak melecehkan kehormatan mereka. Bahkan Nabi shallallahu’alaihi wasallam memberikan pengajaran kepada mereka dengan lemah lembut dan kasih sayang sampai mereka sampai pada tingkatan mengetahui dan memahami. Pada kisah berikut ini akan menjadi sebaik-baik pelajaran bagi kita bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam mensikapi orang basui yang kencing di masjid.
  Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, bahwasanya suatu ketika ada seorang badui yang msuk kedalam masjid kemudian ia kencing didalamnya, maka para shahabat pun marah kepadanya, mereka pun melarangnya dan meneriakinya, akan tetapi Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Jangan kalian putuskan buamg hajatnya.” Maka tatkala orang badui tersebut menyelesaikan buang hajatnya, maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan untuk diambilkan seember air agar disiramkan padanya. Kemudian beliau pun memanggil orang badui tersebut dan bersabda kepadanya, “Sesungguhnya masjid ini tidaklah pantas untuk tempat kotoran, akan tetapi (masjid ini) adalah tempat untuk shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir kepada Allah ‘Azza Wajalla.”


Kasih Sayang Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Kepada Orang-orang Yang Berbuat Maksiat Dan Dia Telah Bertaubat
Nabi shallallahu’alaihi wasallam adalah sosok yang penyayang kepada orang-orang yang berbuat maksiat manakala mereka datang dengan penuh penyeasalan dan taubat. Telah dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam seorang laki-laki kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah aku telah binasa.’ Maka beliau bersabda, ‘apa yang membuatmu binasa?’ ia menjawab, ‘aku telah menyetubuhi istriku saat puasa Ramadhan.’ Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepadanya, ‘apakah  mendapati seorang budak untuk di merdekakan sebagai kaffarah dari perbuatannya tersebut?’ Maka ia menjawab, ‘tidak.’ Maka beliau bertanya lagi kepadanya, ‘apakah engkau mampu untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Maka ia menjawab, ‘tidak’. Maka beliau bertanya lagi kepadanya, ‘apakahengkau mampu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?’ Maka ia menjawab, ‘tidak.’ Kemudian orang tersebut duduk dan datanglah Nabi shallallahu’alaihi wasallam dengan membawa korma, kemudian beliau bersabda, ‘ambillah korma ini dan bersedekahlah engkau dengannya (yaitu sebagai kaffarah).’ Maka orang tersebut menjawab, ‘kepada orang yang lebih miskin dari aku wahai Rasulullah?! Demi Allah tidak ada diantara dua tepi kota Madinah seorang pun yang lebih fakir dari pada aku’! maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam pun tertawa sampai nampak gigi gerahamnya , kemudian beliau bersabda, ‘berilah makan keluargamu dengan (korma) tersebut’.”

Kasih Sayang Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Dalam Memberikan Pengajaran
Beliau adalah sosok yang penyayang dalam memberikan pengajaran kepada manusuia, hal tersebut sebagaimana nampak dalam kisah Mu’awiyah bin Al-Hakam. Yang mana suatu ketika ada seseorang yang bersin dihadapannya ketika ia shalat, maka mu’awaiyah mendo’akannya padahal ia sedang shalat, maka kemudian Mu’awaiyah bertutur, “maka orang-orang pun memandangiku dengan tajam, hingga aku pun berucap, ‘celaka kalian, mengapa kalian memandangiku demikian?’ kemudian orang-orang pun memukul-mukul paha-paha mereka. Kemudian tatkala mereka telah membuat aku diam maka kemudian mereka pun diam. Maka tatkala Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah selesai mengerjakan shalatnya, beliau pun memanggilku (menasehatiku), beliau tidaklah memukulku, membenciku, atau mencelaku, dan aku belum pernah melihat seorang pengajar pun sebelum dan sesudahnya yang lebih baik dari pada beliau. (HR. An-Nasaa’i dan Abu Dawud)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Melarang Cepat Marah Karena Hal Tersebut Berlawanan Dengan Kasih Sayang
Beliau adalah sosok yang melarang setiap akhlaq yang dapat menghilangkan rahmat diantaranya adalah akhlaq cepat marah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu’alihi wasallam, ‘berilah nasehat kepadaku’, maka beliau bersabda,‘janganlah engkau cepat marah’, maka orang ini pun mengulangi ucapannya lagi berkali-kali, namun beliau tetap bersabda, ‘janganlah engkau cepat marah’.” (HR. Bukhari)
Kasih Sayang Adalah Semboyan Hidup
Kasih sayang dan lemah lembut adalah semboyan hidup Rasulullah shallallahu’alahi wasallam, sampai-sampai berkata ‘Aisyah radhiyallahu’anha, “Rasulullah shallallahu’alahi wasallam tidak pernah sekalipun memukul dengan tangannya, tidak pula memukul wanita dan pembantu, kecuali apabila beliau berjihad di jalan Allah, beliau tatkala  disakiti oleh seseorang  beliau tidak membalas dendam terhadap orang tersebut, kecuali apabila dilanggar hak-hak Allah, maka beliau pun marah karena Allah.” (HR. Muslim)

Potret Gambaran-gambaran Kasih Sayang
Agar kita bisa mengamalkan apa yang telah kita pelajari tadi kami ingin meringkas beberapa contoh gambaran kasih sayang, agar kita berusaha untuk mempraktekkan dalam amaliyah nyata semampunya. Diantara contoh gambaran kasih sayang tersebut antara lain:
Kasih sayang anda terhadap istri atau keluarga wanita anda. Ini adalah perkara yang mudah penerapannya bagi kita, apa yang menghalangi anda untuk memberikan hadiah kepada istri anda pada hari ini serta berterimakasih kepadanya karena dia telah mendampingi hidup anda, serta anda berjanji kepadanya agar tidak melukai hatinya selama-lamanya. Serta apa yang menghalangi anda untuk (menggantikannya) demi mempersiapkan makan siang dan malam, atau membantunya mencuci piring setelah makan, bukankah itu semua adalah akhlaq dari Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.
 Diantara bentuk kasih sayang yang telah kita bahas tadi adalah kasih sayang terhadap anak-anak kecil. Ini adalah hal yang mudah untuk di praktekkan, pada hari ini anda bisa memberikan mainan untuk anak-anak anda kemudian sejenak anda bercengkrama dan bermain-main bersama anak-anak anda demi memasukkan kebahagiaan kedalam hati anak anda. Anda juga bisa memberikan hadiah kepada anak tetangga agar mereka bisa bersenang-senang dengan dengan mainan tersebut, atau bisa juga anda bercanda dengan anak-anak kecil apabila anda melihat mereka dimanapun anda berada sembari memberikan nasehat kepada mereka.
 Diantara bentuk kasih sayang yang telah kita bahas tadi adalah kasih sayang terhadap anak-anak yatim. Ini adalah hal yang mudah untuk di praktekkan. Apabila anda adalah orang yang diberi kelebihan harta anda bisa mengkafalahi anak yatim atau beberapa anak yatim, bisa juga dengan anda memberikan sumbangsih berupa tempat tinggal untuk mereka, atau bila anda bukanlah orang yang memiliki kelebihan harta minimal anda bisa mengunjungi panti-panti anak-anak yatim agar anda bisa mengunjungi dan menghibur mereka hingga mereka merasa seolah-olah mereka memiliki keluarga yang memperhatikan kondisi mereka.
Diantara bentuk kasih sayang yang telah kita pelajari tadi yaitu kasih sayang terhadap para pemuda. Ini adalah perkara yang urgen untuk di perhatikan oleh para bapak, para ibu, para pendidik, dan para da’i. Masa muda adalah masa puncak bergejolaknya syahwat dan masa dimana mereka sering menolak dan membengkang perintah, itulah yang dinamakan dengan darah muda. Sungguh telah kita ambil pelajaran dari akhlaq Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam bahwa sikap keras terhadap para pemuda kita terkadang malah menimbulkan dampak yang negatif, maka metode psikologis yang paling utama dalam mendidik mereka adalah pendidikan dengan cara yang lemah lembut, membuat mereka cinta kepada kita, serta membuat mereka akrab dengan kita hal itu bertujuan agar nasehat bisa diterima oleh relung hati mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam tatkala beliau memberikan nasehat kepada pemuda tadi (pemuda yang meminta izin kepada beliau untuk berzina).
Diantara bentuk kasih sayang yang telah kita pelajari yaitu kasih sayang kepada musuh. Pada point ini saya ingin memberikan beberapa nasehat kepada para pemuda yang hanya bermodalkan semangat buta dalam berperang dan mereka yang melakukan tindak pengeboman yang mana mereka dalam beraksi tidak pernah berkonsultasi kepada para ulama. Perhatikanlah bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersikan kasih sayang terhadap musuh sekalipun padahal mereka telah menyiksa, memerangi, mengusir, serta menimpakan berbagai macam musibah terhadap beliau dan para shahabat. Meskipun demikian Nabi memaafkan merela meskipun beliau berhak untuk membunuh mereka. Ini kontras dengan apa yang dilakukan oleh para pemuda yang di bakar oleh semangat buta yang kemudian mereka menjadi sebab terbunuhnya nyawa-nyawa kaum muslimin yang tidak bersalah dan yang selain mereka, serta menimpakan petaka kepada orang-orang yang konsekuen dalam menjalankan agamanya, para penuntut ilmu, dan para da’i. Maka mereka bukanlah orang yang berbuat kasih sayang terhadap musuh-musuhnya bahkan mereka pun tidak memiliki kasih sayang sampai kepada saudara mereka seislam. Wallahul musta’an.
Diantara bentuk kasih sayang adalah kasih sayang kepada binatang. Ini adalah hal yang mudah bagi kita semua untuk  untuk mempraktekkannya. Ambil contoh misalnya bila ada burung kecil yang berterbangan di depan rumahmu bisa engkau memberi makan, minum, dan perhatiannya kepada burung-burung tersebut. Apabila engkau melihat binatang yang patah betisnya bisa engkau luruskan, atau apabila anda melihat binatang yang sakit bisa anda bawa ke tempat pengobatan binatang.
Diantara bentuk kasih sayang yang telah kita pelajari adalah kasih sayang kepada pembantu. Sangat disayangkan, disebagian negara Arab yang notabennya adalah negara kaya, namun engkau mendapati mereka memperlakukan pembantu mereka layaknya binatang atau bahkan lebih jelek dari pada itu. Wallahul musta’an. Padahal Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda, “Mereka (para pembantu) adalah saudara-saudara kalian.” Bahkan beliau berwasiat agar pembantu tersebut diperlakukan seolah-olah dia adalah bagian dari keluarga kita sehingga mereka makan dari makanan yang kita makan, kita memberikan kepada mereka pakaian seperti yang kita pakai, serta kita berinteraksi baik dengan mereka seperti sebagian kita berinteraksi baik dengan orang lain yang sama dengan kita.
Diantara bentuk kasih sayang yang telah kita pelajari adalah kasih sayang terhadap orang-orang yang tidak tahu, lemah lembut dalam memberikan pengajaran, dan lemah lembut terhadap orang-orang yang bertaubat setelah mereka berbuat maksiat. Ini adalah perkara yang urgen untuk diperhatikan oleh para du’at, para pengajar, serta orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf serta melarang dari perbuatan yang munkar. Terkadang metode pengajaran yang keras dan kaku akan membuat manusia lari dari nasehat, akan tetapi lihatlah! bagaimana kasih sayang Nabi shallallahu’alaihi wasallam keepada orang badui ini, padahal ia telah kencing di masjid yang mana ini adalah bentuk kesalahan yang fatal tanpa diragukan. Perhatikanlah! Bagaimana kasih sayang beliau kepada Mu’awiyah bin Al-Hakam padahal ketika itu dia tidak memperbagus shalatnya. Bila kita melihat zaman sekarang, terkadang seseorang melakukan suatu kesalahan yang lebih ringan dari hal tersebut diatas namun ada diantara kita yang memberikan nasehat kepadanya dengan nasehat yang keras dan kaku sehingga membuat orang tersebut lari dari kita.

Demikian juga termasuk metode dakwah yang keliru adalah apa yang dilakukan oleh sebagian tholibul ‘ilmi terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka dengan memvonisnya sebagai mubtadi’, fasik, serta memberikan celaan dan cercaan yang bertubi-tubi hanya karena tidak sependapat dengan mereka dalam beberapa permasalahan yang bersifat ijtihadiyah, ini jelas metode dakwah yang membuat orang lari dari kebenaran.

Penutup:
Saudaraku yang terhormat, sesungguhnya akhlaq kasih sayang haruslah menjadi semboyan hidup kaum muslimin. Dimanapun seorang muslim melenggang dia akan diketahui ditengah-tengah manusia sebagai seorang yang memiliki kasih sayang, kelembutan, dansopan santun dihadapan manusia yang lain. Dan yang paling utama untuk menyandang akhlaq ini adalah seorang da’i, serta para penuntut ilmu yang menasabkan dirinya kepada Al-Kitab, As-Sunnah, dan metode para salaf.

Aku memohon kepada Allah agar apa yang telah disampaikan ini bermanfaat untuk kami dan untuk hadirin semua, serta menjadikan hal tersebut sebagai petunjuk yang menerangi kita bukan sebagai malapetaka bagi kita. Wassalamu’alaikum Warahmatullah.


Semoga bermanfaat.

 oleh ‎محمد رزقي‎ (Catatan) pada 21 Oktober 2012 pukul 22:14
Share this article :

0 comments:

Poskan Komentar

Isi Post Dzul Kifayatain

Translate

Topics :
 
Support : emye Blogger Kertahayu | kanahayakoe | Shine_83
Copyright © 2013. Dzul Kifayatain_Tis'ah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger