Home » » Membahas Q.S AL Baqarah 223

Membahas Q.S AL Baqarah 223

Written By Emye Yahya on Senin, 01 April 2013 | 20.20

BENARKAH Q.S AL BAQARAH 223 MERENDAHKAN WANITA

Q.s Al Baqarah[2]: 223, yang biasanya sering dipakai oleh para Orientalis untuk merendahkan perempuan Muslim.
Di bawah ini saya tuliskan ayatnya, dan mudah-mudahan tidak salah:

"Nisaa-ukum hartsun lakum fa'tuu hartsakum annaa syi'tum wa qaddimuuli anfusikum wattaqullaah wa'lamuu annakum mulaaquuhu wa bassyirilmu'miniin"

Terjemahannya yang biasa dibaca:

"Isteri-isteri kamu itu ladangmu, Datangilah sebagaimana yang kamu kehendaki, Berbuat baiklah untuk dirimu, Bertakwalah kamu, Ketahuliah bahwa kamu akan bertemu dengan-Nya, Berilah kabar gembira kepada orang-orang mu'min"

Nah, biasanya ayat 2:223 ini hanya diambil yang "isteri-isterimu itu ladangmu", lalu ada yang memberikan intersepsi "seperti" ladangmu.
Jadinya ayat itu biasa digunakan oleh para kiai untuk mendatangi isteri sesuka hatinya [suami] dan bebas memperlakukan isterinya dalam hal seksual.
Katanya, karena isteri itu ladang, atau seperti ladang, maka suami boleh mengayunkan cangkulnya kapan dan bagaimana, serta dari mana memulai.

Dan para pengkritik dari Anti Islam, justru mengambil ayat ini sebagai bukti bahwa Islam merendahkan perempuan.

Herannya, tak ada yang mencoba membahas kalimat berikutnya yang berbunyi:
"berbuat baiklah sebelumnya untuk dirimu", dan tidak mencoba mengungkap apa makna "bertakwalah kepada Allah" dalam kaitan ayat isteri sebagai ladang. Terus apa makna "kamu akan menemuiNya" dalam kaitan ayat tersebut.

Saya kalau membaca tafsir memang jadi mengangguk-angguk, betapa para ulama kita sering hanya mencomot bagian ayat untuk kepentingannya [sebagai laki-laki, dan golongan agamanya].

Ayat Al Quran memang sering berupa metafor, permisalan, atau perumpamaan. Tapi kalau metafor itu diambil tidak utuh, maka akan menyesatkan para pembacanya atau umat Islam sendiri.

Harts atau ladang adalah harta-benda tertinggi nilainya di wilayah padang pasir waktu itu. Karenanya, zakat untuk hasil sawah-ladangpaling tinggi, yaitu 5% untuk yang dirawat dan 10% untuk yang dibiarkan secara alami. Bandingkan harta benda [termasuk emas] yang cuma 2,5% besarnya!

Dengan demikian metafor "isteri" sebagai "ladang" sebenarnya menempat-kan perempuan sebagai sesuatu yang tak ternilai. Artinya, laki-laki atau suami harus memperlakukan sebaik-baiknya, berhati-hati, agar tidak membuat cacat isteri.

Kalau dibaca pada zaman sekarang, isteri pun tidak mau diperlakukan berlebihan oleh suami. Sebab segala yang berlebihan itu kalau terjadi petaka, sakitnya bukan alang kepalang. Namun, melihat konteks Arab yang tidak menghargai perempuan, maka metafor Al Quran tersebut sangatjitu bagi upaya kesetaraan gender.

Nah, lucunya, kalimat "maka datangilah sebagaimana yang kamu kehendaki" justru digunakan sebagai alasan untuk berbuat semau guebagi suami terhadap isterinya. Orang lupa terhadap ayat "waqaddimuuli anfusikum",

lakukan kebajikan sebelumnya untuk kalian [hai... suami-isteri]. Lalu, sambungan ayat "wattaqulaah" juga dilupakan. Lalu, apa Hubungannya dengan menemui Tuhan?

Kalau ayat tersebut dibaca secara utuh, dan memahami gaya bahasa Arab bagaimana "mendahulukan" dan "mengakhirkan" sebuah kalimat utuh, makakita akan menemukan makna yang sangat dalam, dalam hubungan suami-isteri.

Cobalah pahami bagian ayat "waqaddimuu li anfusikum" terlebih dulu. Maka yang terasa diperintah itu adalah kedua belah pihak, baiksang suami maupun isteri. Jika yang membaca ayat tersebut isteri, maka yang terasa diperintah Tuhan ya sang isteri. Jika yang membaca suami,maka suami yang merasa diperintah.

Jadi kalau bahasa Inggris "the blue sky" jangan dibaca "blue"-nya dulu nanti jadi "biru langit" dan bukan "langit yang biru". Jauh artinya,lho. Demikian pula ayat tadi, "harts" hanyalah metafor.

Bukan sebagai kalimat berita! Bukan pula sebagai kenyataan bahwa isteri itu ladang.Karena itu pahami dulu, mana yang perintah. Dengan demikian, sebelum salah satu pasangan suami isteri itu mendatangi atau mengajak bercanda ria untuk memenuhi hajatnya, maka masing-masing pihak, suami atau isteri harus melakukan kebajikan lebih dahulu. Inilah etika bercengkerama suami isteri.

Lalu, ayat mendatangi ladang sebagaimana yang kalian kehendaki, berarti dalam suatu kerangka "kebajikan" yang dilakukan. Bukan berlaku sebagai binatang liar.

Berbuat kebaikan sebelum bercanda ria, antara lain, telah membersihkan tubuh, telah menjaga isi perut supaya tidak terasa lapar atau kekenya-ngan, membersihkan mulut, menggunakan wewangian yang disukai pasangan-nya, mengatur keredupan lampu, bila sudah lewat jam tidur dan anak-anak belum juga tidur, meminta izin kepada anak-anak bahwa kita ingin beris-rahat, dan berbagai kebajikan....

Nah, masyiah atau kehendak di sini harus dalam kerangka "taqaddim",saling melakukan kebajikan. Bila sebelum canda suami-isteri kita sudah melakukan kebajikan, maka selama bercanda-ria itu kita harus "takwa kepada Allah", memelihara dan menjaga hukum-hukum Allah dalam canda ria tadi. Saling menjaga keawetan dalam permainan, saling memberi kode bilasejenak beristirahat agar awet bermain, saling membersihkan bila terasa bearair [maaf ini harus disampaikan], menyerap keringat yang bercucuran pada badan. Dengan cara ini orgasme tidak mudah terjadi.

Seperti orang makan. Sesendok makanan yang masuk mulut harus dikunyah dengan baik. Hingga terjadi proses enzimasi yang terasa manis dan nik-mat di mulut, baru kemudian ditelan dan dimasukkan lagi sesuap nasi,dan seterusnya......
Begitu pula dalam cengkerama, tak perlu ada keter-gesaan. Bisa diselingi istirahat berkali-kali tanpa orgasme. Kita pelihara hukum-hukum Allah di situ. Jika terlalu cepat bersemangat, yang laki-laki selesai duluan. Bila terlalu kuat yang laki-laki, yang perempuan selesai duluan. Jadi, hukum seiring sejalan dipelihara.

Bila sudah dianggap pada titik selesai bersama, maka semuanya disepakati untuk selesai bersama..... dan tercapailah "wa'lamuu annakummulaaquuhu", ketahuilah bahwa kalian menemui-Nya".

Ya.., seksual yang berhasil akan memperoleh kenikmatan dan sekaligus merasakan terjadinya pencerahan. Pikiran kedua pihak terasa cerah.Bagun pagi tiada rasa lelah. Selama seminggu masing-masing pasangan senyum meriah. Sehingga di ayat yang lain digambarkan bahwa orang-orangyang ada di dalam surga itu "berseri-berseri" memandang Tuhan mereka.

Penutup ayat adalah "wabassyiril mukminiin", dan 'kegembiraan' ini kabarkan kepada teman-temanmu yang mukmin.


semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wassalam,

oleh ‎محمد رزقي‎ (Catatan) pada 31 Maret 2013 pukul 21:28
Share this article :

1 comments:

Isi Post Dzul Kifayatain

Translate

Topics :
 
Support : emye Blogger Kertahayu | kanahayakoe | Shine_83
Copyright © 2013. Dzul Kifayatain_Tis'ah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger