Home » » Sejarah Islam di Asia Tenggara

Sejarah Islam di Asia Tenggara

Written By Emye Yahya on Kamis, 04 April 2013 | 15.25


Fiqhislam.com - Hadirnya Islam merupakan dampak positif dari ramainya transaksi dagang di Selat Malaka.

Ada sekitar 240 juta Muslim tinggal di Asia Tenggara. Jumlah tersebut hampir seperempat dari total jumlah umat Islam di dunia yang mencapai 1,6 miliar jiwa.

Indonesia, sebagai bagian dari Asia Tenggara, bahkan merupakan negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Sebanyak 12,9 persen dari total Muslim dunia hidup di Indonesia.

Meski Islam lahir di tanah Arab, namun jumlah Muslimin didominasi masyarakat Asia, terutama Asia Selatan dan Tengggara.

Tak sedikit negara Asia Tenggara menjadi rumah bagi mayoritas Muslim. Bahkan, Malaysia dan Brunei Darussalam menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.

Dibanding saudara-saudara seiman mereka di Timur Tengah, umat Islam di Asia Tenggara hidup lebih aman dan damai. Konflik agama, aksi kekerasan, ataupun peperangan sangat minim.

Meski berasal dari etnik yang heterogen, Muslim Asia Tenggara sebagian besar menganut paham agama yang sama, yakni Sunni dengan mazhab Syafi’i.

Menilik sejarahnya, Malaka merupakan gerbang utama masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari semenanjung Malaka, Islam bersentuhan dengan bangsa Melayu yang kemudian menyebar ke seluruh kawasan Asia Tenggara.

Dalam versi lain disebutkan, Islam lebih dahulu dikenal di Samudra Pasai, Aceh, sebelum sampai ke Malaka. Keberadaan Islam di Samudra Pasai sendiri merupakan dampak perkembangan penyebaran Islam dari Kerajaan Perlak.

Prof A Hasymi dalam bukunya “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia” menyatakan, Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara yang berdiri abad ketiga Hijriah.

“Buktinya, pada 173 Hijriah atau 800 Masehi, sebuah kapal layar berlabuh di Bandar Perlak membawa para saudagar di bawah pimpinan Nakhuda Khalifah dari Teluk Kambay, Gujarat,” tulis Hasymi.

Pada 1 Muharam 225 Hijriah (840 Masehi), Kerajaan Islam Perlak resmi berdiri dengan Sayid Abdul Aziz sebagai sultan pertama. Adapun, Kerajaan Samudera Pasai baru berdiri pada 1267 Masehi.

Bermula dari Kerajaan Perlak, penyebaran Islam mengalami perkembangan pesat, termasuk di Malaka.

Sejumlah kerajaan Islam, seperti Kerajaan Pasai, Aceh, hingga Sumatra Utara, Sumatra Selatan, dan Pariaman menerima Islam dari proses perkembangan tersebut.

Agama Islam pun mulai dikenal di kawasan Melayu melalui para raja di sekitar kawasan itu, dengan Malaka sebagai titik awalnya.

Strategis

Malaka merupakan selat yang sangat strategis dalam sejarah perdagangan dunia. Beragam transaksi jual-beli dari berbagai belahan dunia dilakukan di kawasan perairan ini. Kerajaan-kerajaan yang berada di dekat kawasan strategis itu pun memetik banyak keuntungan.

Selain keuntungan dari sisi ekonomi, mengenal Islam juga merupakan salah satu dampak positif dari ramainya hubungan dagang dengan para saudagar mancanegara.

Tak jelas tahun berapa Islam mulai dikenal di Kerajaan Malaka. Menurut hikayat Sejarah Melayu dan catatan orang Cina, pada 1409 orang Malaka telah memeluk agama Islam.

Beberapa sumber sejarah juga menyebut, Islamnya Malaka berangkat dari Kerajaan Samudra Pasai. Disebutkan bahwa Parameswara, raja pertama Kerajaan Malaka (1384-1414), beristrikan putri dari Kerajaan Pasai.

Setelah menjalin hubungan dengan Pasai, Parameswara memeluk agama Islam. Dengan berislamnya sang sultan, maka diislamkanlah seluruh kerajaan dan rakyatnya. Islam pun menjadi agama resmi Kerajaan Malaka.

Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam disebutkan bahwa para pedagang, mubaligh, serta guru sufi kemudian datang berbondong-bondong dari Timur Tengah ke bandar Kerajaan Malaka dan Pasai.

Dari dua kerajaan tersebut, tersebarlah ajaran Islam ke Pattani (Thailand) serta kawasan semenanjung, seperti Johor, Pahang, dan Perak.

Runtuhnya Malaka bukan berarti lenyapnya Islam di tanah Melayu. Keruntuhan tersebut justru mendorong penyebaran Islam yang lebih luas.

Disebutkan bahwa seluruh kawasan Malaya kemudian mengenal Islam sejak Sultan Mudzaffar Syah memimpin kerajaan serta berhasil menguasai semenanjung Malaya dan pesisir timur Sumatra.

Penyebaran Islam makin meluas ketika sultan berikutnya, Sultan Mansur Syah, naik takhta. Ia berhasil menguasai Kedah, Pahang, Kampar, bahkan Siak.

Kawasan Indragiri dan Jambi pun didapatkan Malaka atas hadiah dari Kerajaan Majapahit. Pada periode dua sultan itulah Kerajaan Malaka mengalami puncak kejayaan.

Hingga pada 1511 Portugis menyerang Kerajaan Malaka. Raja Malaka saat itu, Sultan Mahmud Shah I, pun mundur dan bertahan dengan memimpin kawasan Bentan. Saat itu, kerajaan masih meliputi Kuala Muar, Pagoh (Johor), Beruas (Kuala Selangor), Lingga, dan Indragiri.

Namun, Portugis terus saja menyerang, Bintan pun jatuh ke tangan Portugis pada 1526. Lalu, Sultan mundur ke Kampar dan wafat di sana. Kesultanan Malaka yang besar pun runtuh akibat kolonialisasi.

Islam Kian Meluas

Runtuhnya Malaka bukan berarti lenyapnya Islam di tanah Melayu. Keruntuhan tersebut justru mendorong penyebaran Islam yang lebih luas.

Dari internal kerajaan, para keturunan Sultan Mahmud Shah masih terus berjuang mempertahankan diri hingga kemudian tersebar ke beberapa wilayah. Riau, Lingga, Johor, dan Pahang menjadi empat negeri utama kelanjutan sejarah kerajaan Islam Melayu.

Bermula dari Kerajaan Johor yang dibentuk pada 1673 oleh Sultan Ibrahim Syah dengan bantuan Laksamana Tun Abdul Jamil.

Selain dari internal kerajaan yang menghimpun kembali kekuatan untuk mendirikan kesultanan baru, para pedagang pun mencari tempat berlabuh untuk transaksi perdagangan. Mereka terpaksa beralih dari Pelabuhan Malaka yang telah direbut dan didominasi Eropa.

Para pedagang Muslim tersebut kemudian mulai melirik pulau-pulau besar di Indonesia, seperti Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa.

Selain di Kepulauan Indonesia, Islam pun menyebar lewat jalur perdagangan ke beberapa negara Asia Tenggara.

Tom Pires dalam catatannya “The Suma Oriental of Tome Pires” menyebut, perjalanan perdagangan Islam menyebar dari Malaka ke Cina, Cina ke Maluku, Maluku ke Jawa, dan dari Jawa kembali ke Malaka.

Pusat-pusat perdagangan berada di Makassar, Gresik, Demak, Banten, dan kota-kota lain di sebelah barat.

Kemudian, saat angin di Laut Cina Selatan bertiup ke utara di setiap bulan Juni hingga Agustus, para pedagang pun berlayar ke Ayuthia, Muangthai (saat ini Thailand), Cina, dan negeri-negeri di utara.

Dengan tersebarnya para pedagang Malaka, tersebar pula ajaran Islam. Di pusat-pusat perdagangan, muncul kerajaan-kerajaan Islam baru yang kemudian berperan besar dalam Islamisasi di wilayah-wilayah lain hingga ke kawasan terpencil.

“Puncak Islamisasi terjadi abad ke-15 sampai 18. Justru, ketika Malaka lumpuh, muncul Aceh, Banten, Makassar, dan Cirebon. Runtuhnya Malaka bukan akhir, tapi awal menyebarnya pedagang ke mana-mana. Malaka ini senter pusat ke Nusantara yang lain,” papar dosen sejarah Universitas Indonesia, Linda Sunarti.

Selain di Kepulauan Indonesia, Islam pun menyebar lewat jalur perdagangan ke beberapa negara Asia Tenggara. Islam memantapkan diri di Brunei Darussalam saat pedagang terusir oleh monopoli Portugis yang menyerang kawasan pusat perdagangan di Semenanjung Malaya.

Mereka memasuki Kepulauan Indonesia kemudian sebagian di antaranya mendatangi kawasan pantai utara Kalimantan. Diperkirakan, penguasa lokal Brunei memeluk Islam pada 1514-1521. Abad ke-15 Masehi, di Brunei berdiri kesultanan Islam yang memiliki kota pelabuhan penting bagi pedagang Cina, India, dan Arab.

Raja Brunei saat itu diperkirakan memiliki hubungan kerabat dengan Kesultanan Johor, pewaris Malaka. Identitas Melayu tumbuh kuat di sana. Kesultanan Brunei pun mengambil peran dalam penyebaran Islam ke wilayah lain, terutama Filipina.

Di Abad ke-15 Kesultanan Brunei mencakup wilayah pantai utara Kalimantan hingga Filipina, termasuk Sabah, Sarawak (sekarang milik Malaysia), serta Sulu dan Luzon (Filipina). [yy/republika]
Share this article :

0 comments:

Poskan Komentar

Isi Post Dzul Kifayatain

Translate

Topics :
 
Support : emye Blogger Kertahayu | kanahayakoe | Shine_83
Copyright © 2013. Dzul Kifayatain_Tis'ah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger