Home » , » Peta Mimpi Yahudi Di Timur Tengah (3 – Habis)

Peta Mimpi Yahudi Di Timur Tengah (3 – Habis)

Written By Emye Yahya on Rabu, 10 April 2013 | 09.18




SEDANGKAN penguasaan Mekkah dan Madinah harus diberikan kepada sebuah badan yang beranggotakan perwakilan aliran dan gerakan Islam yang utama. Dengan demikian tak akan ada aliran yang mendominasi, apalagi menjadi doktrin yang tersebar secara luas. Yang ada hanyalah perdebatan di antara aliran-aliran tersebut.

Peta yang dibuat Ralph Peters itu bisa menjadi pembenaran keberadaan pasukan AS di Timur Tengah. Pasukan itu akan menjalankan “tugas mulia” untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Menghapus “kesalahan sejarah” pembagian wilayah bekas kekuasaan Khilafah Turki Utsmaniyah oleh Perancis dan Inggris.

Namun pensiunan militer yang punya nama pena Owen Parry ini juga menegaskan tujuan sebenarnya dari keberadaan mereka di Timur Tengah, menguasai sumber-sumber minyak. “Meanwhile, our men and women in uniform will continue to fight for security from terrorism, for the prospect of democracy and for access to oil supplies in a region that is destined to fight itself,” tegasnya.

Jika ditilik lebih lanjut, skenario perubahan peta negara-negara Muslim Timur Tengah ini sejalan dengan agenda kelompok Neo Conservative (Neocons) yang didengungkan sejak 1997. Kelompok yang digagas Irving Kristol ini meluncurkan Project for the New American Century (PNAC). Proyek ini bertujuan menciptakan kepemimpinan global AS di dunia. AS sebagai satu-satunya negara super power yang tersisa harus memainkan peranan sebagai kekuatan yang mampu menciptakan hegemoni di seluruh dunia.

Proyek ini sejak awal mentargetkan penguasaan atas Irak. Pada bulan Januari 1998 para penggagas proyek ini mengajukan PNAC ini kepada Presiden Bill Clinton. Dalam surat yang ditandatangani Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, John Bolton, Elliot Abrams dan Richard Armitage ini, kelompok Neocons meminta Presiden Clinton untuk segera menurunkan Presiden Irak, Saddam Hussein dari kekuasaannya melalui kekuatan diplomatik, politik bahkan aksi militer.

Pada bulan September 2000, para penggagas PNAC yang dimotori Dick Cheney (Wapres AS saat ini) meluncurkan rencana induk dalam laporan berjudul “Rebuilding America’s Defenses: Strategy, Forces, and Resources for a New Century”. Dalam rencana induk tersebut, para penggagas PNAC mendesak untuk membuat basis militer secara permanen di Selatan Eropa, Asia Tenggara dan Timur Tengah. Hal itu ditujukan untuk memperkuat hegemoni AS di daerah- daerah yang dinilai rawan konflik.


Selain itu gerakan ini juga meminta untuk pemerintah untuk memodernisasi alat-alat tempur yang dimiliki AS, mengembangkan sistem pertahanan global, mengembangkan strategi dominasi udara, menggagas arus utama di dunia maya, serta meningkatkan anggaran militer menjadi 3,8 persen dari keseluruhan anggaran.

Di akhir musim panas 2001, proyek ini mendapat hambatan karena dukungan terhadap pemerintah turun hingga mencapai 51 persen. Hal ini disebabkan anjloknya perekonomian AS. Namun, peristiwa peledakan WTC yang dikenal dengan tragedi 9/11 membuka kembali dukungan rakyat AS terhadap PNAC.

Dengan dalih perang terhadap terorisme, pemerintah AS mendapat dukungan untuk menggelar pasukan dan menguasai wilayah yang disebut- sebut sebagai sarang teroris, tak terkecuali Afganistan dan Irak. Hasilnya, sebuah koran terkemuka di AS, The Wall Street Journal, menyebut bahwa kini AS telah menempatkan pasukannya di 130 negara. AS juga telah memiliki 40 pangkalan militer permanen yang akan terus bertambah jumlahnya.

Mantan anggota Parlemen AS dari Lousiana, David Duke menilai ke- bijakan AS menguasai Irak sebe- narnya bukan untuk kepentingan AS, melainkan untuk kepentingan Israel. Ia menunjuk anggota kelompok Neo- cons yang menggagas PNAC seperti Paul Wolfowitz, Richard Perle, Daniel Feith, dan Elliot Abrams sebagai bagian dari lobi Yahudi yang meng- golkan kepentingan Israel melalui kekuatan AS. “Mereka orang Yahudi yang fanatik, ekstrimis, dan bukan manusia normal,” ujarnya kepada televisi Suriah, Nopember lalu.

Paul Wolfowitz dan Daniel Feith memang dikenal sebagai anggota Lobi Yahudi di pemerintah AS. Mereka mempunyai hubungan yang dengan kaum Yahudi di Israel. Wolfowitz yang memiliki keluarga di Israel telah menjadi kepercayaan Bush dalam menangani hubungan antara AS dan Israel. Sementara Feith adalah aktivis pro Israel yang memperoleh penghargaan dari The Zionist Organization of America.

Gerakan Neocons sendiri adalah gerakan yang digagas oleh para cendikiawan Yahudi (baca Dari Neo- cons Hingga Freemansory). Mereka kemudian membangun sayap-sayap gerakan seperti American Enterprise Institute (AEI), Jewish Institute for National Security Affairs (JINSA), Center for Security Policy (CSP) dan beberapa organ lainnya.

AEI merupakan pusat pemikiran kaum Neocons yang punya pengaruh besar terhadap kebijakan Washington. Sedangkan JINSA adalah lembaga yang selama ini emnjadi penghubung antara lobby Yahudi di AS dengan kekuatan kanan politik Israel, Partai Likud. Sementara CSP merupakan organ yang menyediakan kajian tentang kebijakan militer dan persenjataan. Lembaga ini mengusung motto “mem- promosikan perdamaian dunia melalui kekuatan Amerika”.

“Kesalahan sejarah” yang menyebabkan Ralph Peters membuat peta baru negara-negara Muslim di Timur Tengah erat kaitannya dengan kepentingan Yahudi. Peristiwa yang dianggap kesalahan sejarah oleh Peters adalah perjanjian rahasia antara Inggris dan Perancis pada tahun 1916. Dalam perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Sykes Picot ini, Inggris dan Perancis membagi-bagi wilayah bekas kekuasaan Khilafah Turki Utsmaniah menjadi koloninya. Inggris mendapatkan daerah yang kaya sumber minyak di kawasan Teluk Persia yang meliputi Irak dan Kuwait. Inggris juga mendapat daerah Palestina dan Yordania.


Sedangkan Perancis menguasai Suriah dan Libanon. Perjanjian itu juga memberikan wilayah Anatolia dan sebagian kawasan Kepulauan Mediterania menjadi milik Italia. Pihak Rusia mendapat bagian wilayah Armenia dan Kurdistan.

Pembagian inilah yang mengecewakan kelompok Zionis Yahudi yang telah memberikan dukungannya kepada pihak Inggris. Sejak awal mereka meminta wilayah Palestina menjadi tempat bagi kaum Yahudi untuk mendirikan negara. Namun karena pihak Inggris tidak tegas mengusir bangsa Arab yang mendiami wilayah itu, hingga kini kaum Yahudi mengalami kesulitan untuk mewujudkan mimpinya, mendirikan Eretz Israel yang membentang dari Sungai Eufrat hingga Sungai Tigris.

Tentu saja jika AS yang dikendalikan lobi Yahudi berhasil menjadi kekuatan yang mampu memonopoli dunia, termasuk wilayah Timur Tengah, akan mudah bagi bangsa Yahudi mewujudkan mimpinya. Kaum Yahudi akan memanfaatkan kelemahan negara-negara baru di Timur Tengah untuk mengambil keuntungan, sambil tetap mendompleng kekuatan AS seperti yang selama ini terjadi.

Itulah mimpi gerakan neocons yang akan segera diwujudkan melalui peta yang dibuat Ralph Peters. [MN Habibi/SAKSI/islampos]





Share this article :

0 comments:

Poskan Komentar

Isi Post Dzul Kifayatain

Translate

Topics :
 
Support : emye Blogger Kertahayu | kanahayakoe | Shine_83
Copyright © 2013. Dzul Kifayatain_Tis'ah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger