Home » » Isu Kesetaraan Gender

Isu Kesetaraan Gender

Written By Em Yahya on Minggu, 22 Desember 2013 | 07.49

Kaum liberalisme punya banyak racun pemikiran untuk umat Muslim, yang paling sering diangkat adalah pluralisme, demokrasi, kesetaraan gender, dll.

Lihat aja daftar LSM yg dibiayai ford foundation, USAID, AUSAID, dll, semua isu yang diangkat adalah isu yang serupa dan isu gender ini pernah diusung pentolan JIL, musdah mulia, dalam FLA (fikih lintas agama) yg mengusulkan kesetaraan dalam agama Islam.
Kaum liberalis ini menganggap bahwa Al-Qur’an dan syariat Islam adalah meperlakuan tak setara thd perempuan), misal, kaum liberalis mengguggat hak bagi waris lelaki yg 2x lipat wanita, bolehnya memukul istri dalam syariat Islam, dan mengusulkan aturan2 itu dicabut. Inilah semangat yang juga ditanamkan di dalam kesetaraan gender, intinya membebaskan wanita agar berpikir seperti wanita-wanita barat kapitalis.
Karena itu perlu saya sedikit share tentang sejarah kemunculan isu feminisme / kesetaraan gender, supaya jelas bagi kita sikapinya

Jauh sebelum hari ini, kesetaraan gender sebenarnya sudah terjadi ketika masa dark ages di eropa, abad petengahan, yaitu 5 – 15 M. Saat itu gereja menjadi badan terkuat setelah landlord, agama katolik menjadi agama negara, dan aturan gereja adalah mutlak, termasuk anggapan gereja saat itu adala menganggap kesetaraan gender wanita sebagai aib, penyebab adam diusir dari surga, " container of satan" kata mereka.
Maka mulai kesetaraan gender wanita diperlakukan berbeda, masyarakat mengadopsi anggapan katolik, lalu anggap wanita warga kelas dua, dibawah laki-laki. Begitulah dalam sejarah yunani, romawi, lalu kristen katolik, wanita tak berhenti dianggap sebagai bawahan pria, sub-ordinat. Kesetaraan gender wanita dieksploitasi secara seksual di patung-patung, lukisan-lukisan, dan menjadi objek nafsu pria, tidak lebih dari itu.

Kesetaraan gender wanita dianggap beban karena tak mampu mencari nafkah, dikuasai laki-laki, dan boleh diperlakukan semena-mena. Kesetaraan bahkan di eropa, penyihir wanita dinamai witches, makna konotatif yg kasar dibanding wizard atau magician yg merupakan penyihir laki-laki.
Wanita tak diperbolehkan belajar, ahli-ahli kimia wanita dianugrahi gelar witches dan dihukum bakar, tidak dengan pria. Singkat cerita, kesetaraan gender wanita betul-betul menderita, dosa sejak lahir, karena kristen menganggap merekalah sebab keluar dari surga. Ditambah sekulerisasi barat yang akhirnya menjadikan standar kebahagiaan terletak pada harta, jabatan dan kenikmatan dunia, maka lahirlah gerakan feminisme di barat, sekali lagi, lahirlah feminisme di dunia barat, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil.
Mereka mendesak bahwa kesetaraan gender laki2 dan kesetaraan gender wanita harusnya punya akses yg sama terhadap harta, kerja dan semua kebebasan lainnya, bila laki-laki boleh kerja maka wanita juga, laki-laki boleh berpolitik maka wanita juga, laki-laki boleh senang-senang bercinta, wanita juga, begitu isu setara kesetaraan gender.

Hasilnya kesetaraan gender?  Rusaklah tatanan hidup, angka perceraian meningkat. AS kampiun dalam hal perceraian, single parent meroket. Gara-gara kesetaraan gender, anak broken home menjamur, incest (seks antar keluarga) bermunculan, depresi dan stress perempuan meningkat.
Mengapa itu terjadi? karena kesetaraan gender menyamakan antara lelaki dan wanita, padahal keduanya berbeda, punya jalur masing-masing. Cacatnya kapitalis adalah menganggap pria dan wanita sama, padahal sudah jelas-jelas tak bisa disamakan secara  gender.
Cacatnya kapitalis adalah menjadikan standar kebahagiaan ada pada materi, dan ini tidak menguntungkan bagi gender wanita.Tapi inilah yg diinginkan kaum liberalis kapitalis, merusak tatanan masyarakat hingga mereka mengambil keuntungan, dan menjauhkan Islam.
Jadi perlu dipertegas, bahwa masalah gender ini berasal dari tatanan hidup barat sekuler, bukan berasal dari Islam sama sekali.
Dalam Islam, justru ketika Islam datang, perempuan jauh dimuliakan dibanding hidupnya pada masa yang lalu, diangkat derajatnya. Islam memandang pria dan wanita berbeda secara gender, namun mendapatkan akses yang sama terhadap kebahagiaan, yaitu ridha Allah Swt.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.. (QS 9:71)

Itulah bedanya, kapitalis menjadikan kebahagiaan pada materi, ini merugikan wanita dalam Islam kebahagiaan adalah ridha Allah semata. Maka dalam Islam, perempuan bisa sama bahagia dengan laki2, tak perlu isu kesetaraan  gender yg menyesatkan. Lelaki berlomba shaf paling depan, perempuan berlomba shaf dibelakang, keduanya mendapat ridha Allah, jalur masing-masing sudah tetap. Lelaki berlomba syahid di medan jihad, perempuan berumrah mendapat pahala yang sama, jalurnya sudah ada, tak perlu disetarakan gender.
Lelaki mencari nafkah untuk keluarga, perempuan mengurus rumah dan keluarganya, semua dapat ridha, tak perlu berlomba di jalur yang sama.
Subhanallah, itulah Islam, menggariskan untuk perempuan dan laki2 ada jalur lomba sendiri2, nggak berantem, salah satu keadilan Allah, dan malahan, bila ingin disetarakan gender, hasilnya jadi hancur pria cari nafkah angkat-angkat barang, perempuan bisa menyamai? tidak.
Perempuan melahirkan, apakah laki-laki bisa menyamai? tidak.
Laki-laki memimpin kaumnya, bila wanita yg memimpin? stress dia.

Jadi kerusakan tatanan hidup adalah bila perempuan diminta masuk ke jalur yg gak cocok dengan default setting-nya, dan sebaliknya. Tak perlu kesetaraan gender, Allah yang lebih tahu tentang jalur perlombaan kebaikan bagi wanita/pria, bukan manusia yg mengetahui. Allah yang menciptakan manusia termasuk perempuan, dan Allah yg lebih tau yg mana yg pantas bagi perempuan dan yg mana yg tidak.
Beginilah sistem taghut, maunya mengganti aturan Allah dengan aturan manusia, setara #gender, yg hasilnya malah merusak tatanan hidup.

Islam memliakan wanita, tak ada yang lebih memuliakan wanita selain aturan Islam, yakin deh,yg lain kyk kesetaraan gender merusak aja.
Islam memerintahkan wanita menutup aurat, dan tak banyak menampakkan dirinya, karena yg berharga memang harus dilindungi dan dijaga.
Islam menggariskan aktivitas wanita bersama-sama dengan jamaah wanita, karena Islam menghormati wanita, dia tak dikumpulkan dgn pria.

Islam menaruh posisi ibu 3x lipat lebih dari posisi ayah, siapa yang harus ditaati ya Rasul? “ibumu!” ibumu!” “ibumu!” “lalu ayahmu!”.

Rasul katakan “dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan wanita shalihah” (HR Muslim), subhanAllah...Rasul ucapkan “Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya” (HR Ahmad),  masyaAllah...

Tak seperti kapitalis liberal yg mengukur kecantikan dari lekuk tubuh, Islam mengukur lewat ketakwaannya, amal ibadahnya, dan Islam menunjukkan pula bahwa pendukung pertama Rasul adalahl wanita, syahidah pertama juga wanita, Rasul wafat juga di pelukan wanita.
Begitu juga waris lebih banyak laki-laki, karena harta itu di pake untuk keluarganya, sedang warisan bagian wanita untuknya semata, adil kan?

Begitu juga pemukulan tehadap wanita bukan untuk kekerasan, tapi untuk ta’dib (mendidik) dan pukulan itu juga ada etikanya.
Laki-laki baru boleh memukul bila istri maksiat dan;
1) sudah di nasehati,
2) sudah di diamkan
3) sudah di pisah ranjang, tapi istri gak taubat
Memukul istri jg nggak boleh di kepala, nggak boleh berbekas, dan nggak menyakitkan, masyaAllah...
Nah.. nah ..nah.. itulah Islam.

 Karena suami adl pemimpin istri, dia diserahkan wewenang oleh Allah agar suami menuntun istri ke surga Allah, menjaganya dari  maksiat.

Kesimpulannya, tak ada negara yg menerapkan kesetaraan gender lalu bener, yang ada tatanan hidupnya rusak, liat aja AS bosnya feminis. Justru harkat martabat wanita diangkat dengan Islam, dengan penerapan syariat Islam dalam masa Khilafah Islam, wanita mulia. Setidaknya itulah yang bisa kita lihat di sejarah dan juga fakta saat ini, so go away kesetaraan gender, Islam tak perlu!

Source: محمد-رزقي

Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

Isi Post Dzul Kifayatain

Translate

Topics :
 
Support : emye Blogger Kertahayu | kanahayakoe | Shine_83
Copyright © 2013. Dzul Kifayatain_Tis'ah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger