Home » , , , » Membandingkan Idul Fitri Dengan Natal?

Membandingkan Idul Fitri Dengan Natal?

Written By Em Yahya on Rabu, 10 April 2013 | 01.22


Betapa media-media Kristen ini berusaha membuat blow up Natal, tak ubahnya seperti Idul Fitri. Covered (liputan) media-media Kristen itu, menggiring opini yang sangat luar biasa, seakan Natal itu sudah menjadi milik bangsa Indonesia, dan diterima bangsa Indonesia, dan menjadi hari yang paling penting bagi kehidupan.
Natal dan Tahun Baru Masehi, yang selalu berkaitan dan tidak bisa dilepaskan dari agama Kristen itu, sekarang terus dikemas oleh media Kristen, seakan sudah menjadi sebuah ritual agama bagi seluruh bangsa Indonesia. Melibatkan seluruh kehidupan. Tanpa kecuali. Begitu gempita perayaan Natal. Begitu luar biasa penyambutan perayaan Natal.
Bukan hanya media yang memberikan sambutan kepada perayaan Natal. Tetapi, kantor, mall, plaza, toko, tempat rekreasi, bahkan di jalan-jalan terpasang spanduk, poster-poster, partai-partai politik, semua memberikan sambutan yang begitu hangat terhadap perayaan Natal. Seakan masih ada yang kurang, kalau tidak mengucapkan selamat Natal.
Aktivitas akhir tahun itu, yang selalu berkaitan dengan Natal dan Tahun Baru Masehi, ingin di blow up, seakan itu sudah menjadi hajat seluruh rakyat Indonesia. Sampai liputan orang-orang pulang kampung mudik, semuanya dikaitkan dengan perayaan Natal. Semua aktivitas yang ada sekarang ini, semuanya dikaitkan dengan aktivitas Natal dan Tahun Baru Masehi.
Ada usaha-usaha sistematis yang dibangun mengarahkan kegiatan perayaan Natal dan Tahun Baru itu, sebagai sebuah gerakan nasional, dan terus didorong dengan cara-cara yang sistematis oleh media-media Kristen yang sengaja, bukan hanya melakukan sosialisasi dan internalisasi Natal dan Tahun Baru Masehi, tetapi yang lebih penting menjadikan agama Kristen itu, akhirnya bisa diterima oleh seluruh bangsa Indonesia. Tidak lagi bangsa Indonesia  merasa agama Kristen itu sebagai agama yang dibawa oleh kaum penjajah.
Tetapi, tentu yang membuat kita bertanya mengapa setiap menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi, selalu begitu luar biasanya pengamanan yang dilakukan oleh aparat keamanan? Seakan negeri ini tidak aman bagi orang-orang Kristen. Harus beribu-ribu polisi dan tentara mengamankan gereja-gereja diberbagai daerah. Seakan gereja-gereja itu akan diserang oleh orang Islam. Bahkan, pasukan tentara yang akan mengamankan gereja di  daerah Jawa Tengah, harus melakukan latihan pengamanan yang begitu luar biasa.
Polisi dan tentara seakan masih belum cukup mengamankan gereja-gereja yang ada. Masih ditambah pasukan pengaman dari Ormas Islam, seperti Banser yang ditempatkan disetiap sudut gereja, ikut melakukan pengamanan yang begitu hebat. Mengamankan gereja? Apakah benar gereja-gereja itu dalam kondisi tidak aman dan berada dalam ancaman?
Apakah memang masih ada ancaman yang bersifat riil terhadap orang-orang Kristen di Indonesia sekarang ini. Atau orang-orang Kristen sendiri, yang menciptakan suatu kondisi tidak aman, dan mendorong aparat keamanan untuk mencurigai umat Islam?
Seperti yang sekarang dilakukan oleh Amerika Serikat yang melakukan perang terhadap terorisme secara global, "war on terorism", yang sejatinya hanyalah akal-akalan Amerika Serikat yang ingin menjajah dan menguasai Dunia Islam.
Orang Islam selalu menjadi tertuduh dan mendapatkan stigma yang buruk, dan orang-orang Kristen mendapatkan privelige (hak istimewa), dan medapatkan perhatian dan pengamanan yang begitu hebat, dan terus berlangsung setiap tahun, setiap Natal dan Tahun Barul.
Bandingkan dengan Idul Fitri atau hari-hari besar Islam lainnya. Tak ada pengamanan yang begitu massif oleh aparat keamanan, baik kepolisian dan tentara. Semuanya berlangsug dengan damai. Tidak ada kekawatiran dari kalangan umat Islam yang  melangsungkan perayaan, termasuk Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan hari-hari besar Islam semuanya membawa berkah.
Betapa setiap tahun berlangsung Idul Fitri puluhan juta orang melangsungkan shalat di tanah lapang, tidak ada pengamanan dari aparat negara. Puluhan juta orang mudik dari kota ke desa. Bahkan mereka yang berada di luar negeri pun pulang kampung. Jutaan orang mudik, ada yang menggunakan sepeda motor, tak peduli apapun yang bakal terjadi. Mereka pergi pulang ke kampung halaman. Ini tidak ada  yang mengomando. Semuanya berjalan dengan alamiah.
Mereka yang dengan segala upaya dan pengorbanan ingin pulang menjelang Idul Fitri atau Idul Adha itu, karena begitu kuatnya terpateri oleh ajaran Islam,  tentang "birrul walidain" (berbuat baik kepada dua orang tua), dan silaturrahmin, yang sudah berlangsung berabad-abad didalam diri bangsa Indonesia. Setiap tahun jumlah orang yang ingin melakukan "birrul walidain"  dan silaturrahim itu, bukan berkurang, tetapi semakin bertambah banyak.
Sisi lain yang sangat positif itu, dengan Idul Fitri dan Idul Adha itu, dan tradisi pulang kampung melakukan "birrul walidain" terjadi distribusi kekayaan yang sangat luar biasa. Triliunan rupiah setiap tahun yang mengalir ke kampung ke desa-desa, tanpa diatur oleh pemerintah. Semuanya itu berlangsung secara alamiah. Tidak ada mekanisme yang mengatur terjadinya distribusi kekayaan yang begitu sangat massif, kecuali oleh ajaran Islam.
Apalagi, disaat menjelang Idul Fitri selalu, digaungkan tentang perlunya zakat, infaq, shadaqoh terutama bagi fakir miskin, dan anak yatim. Semuanya lebih mendorong terjadinya distribusi kekayaan dari orang-orang kaya kepada fakir miskin, tanpa melalui aturan yang dibuat oleh pemerintah. Semuanya karena adanya kesadaran secara kolektif umat Islam.
Semuanya yang terjadi dikalangan umat Islam itu, tak ada yang harus melibatkan aparat keamanan  yang begitu massif. Semuanya berlangsung dengan damai. Perayaan umat Islam tak ada yang menimbulkan kegalauan dikalangan masyarakat. Tidak akan pernah terjadi adanya kekacauan di dalam kalangan internal umat Islam.
Tetapi, tentu yang sangat pahit dialami oleh umat Islam, saat berlangsung perayaan Idul Fitri, tahun 2000, umat Islam di Ambon, yang sedang merayakan Idul Fitri diserang oleh orang-orang Kristen, dihancurkan, dan masjid-masjid tepat ibadah milik umat Islam dihancurkan, di coret-coret dengan tulisan yang sangat menghujat Nabi Shallahu alaihi wassalam.
Ketika umat Islam berusaha menolong saudaranya di Ambon, dan ikut melindungi mereka, dan masuk kota Ambon, justeru yang mendapatkan fitnah umat Islam, dan kemudian mendapatkan lebel sebagai teroris.
Mereka kemudian dikejar-kejar sebagai penjahat. Padahal, mereka umat Islam menjadi korban orang-orang Kristen, yang lebih dahulu menyerang dan menghancurkan mereka. Inilah sebuah fakta yang tidak dapat dilupaan sepanjang sejarah.
Sementara itu, Natal dan Tahun Baru Masehi, penuh dengan hiburan, hura-hura, yang sangat menyesakkan. Mereka berlibur pergi keluar negeri, dan bahkan hotel-hotel menjelang tahun penuh dengan penghuni. Suasana hiburan yang sangat kontras dengan Idul Fitri.
Ibaratnya kalau Idul Fitri, pelacur pun pulang kampung mengunjungi orangtuanya bersilaturahmi. Tetapi, kalau tahun baru, pelacur bertambah banyak, memenuhi tempat-tempat maksiat, penuh dengan berbagai kemaksiatan yang dikemas dengan hiburan. Sangat berbeda dengan Idul Fitri, semua  orang mendapatkan manfaatnya.Wallahu'alam.

Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

Isi Post Dzul Kifayatain

Translate

Topics :
 
Support : emye Blogger Kertahayu | kanahayakoe | Shine_83
Copyright © 2013. Dzul Kifayatain_Tis'ah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger